Dec 9, 2009

Kota Nyaman, Sejahtera, Bebas Korupsi [Dunia]

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya




Dian Manginta - Cantik Selamanya




Besih dari korupsi sebetulnya sangat kasat mata. Namun orang asing juga tahu bila korupsi sampai tertangkap indera, sebetulnya kita masih butuh mengembangkan ikhtiar untuk maju bersama.





BARANGKALI kita sering bertanya, apa sih yang menyebabkan suatu wilayah sangat menyenangkan untuk menjadi tempat tinggal? Pertanyaan ini memang sulit untuk dijawab, apalagi pendapat yang satu bisa membantah opini lainnya.

Mercer LLC, suatu perusahaan yang banyak menyelidiki tentang kualitas hidup, tahun ini pernah menerbitkan "Mercer's 2009 Quality of Living Survey Highlights - Global". Yang isinya mengungkapkan kota-kota yang dianggap paling nyaman untuk menjadi tempat tinggal di dunia - terutama oleh kaum ekspatriat.

Survei Mercer melingkupi 420 kota di seluruh dunia, dilaksanakan pada tahun 2008, bersamaan dengan datangnya gelombang ekonomi dunia yang mengakibatkan kegelisahan di berbagai kota. Sehingga tahun tersebut sangat cocok untuk melihat bagaimana kalangan ekspatriat merasa nyaman dan aman saat tinggal di suatu kota.

Kondisi infrastruktur, layanan masyarakat dan perangkat publik, sangat diperhitungkan. Infrastruktur yang lengkap akan membuat hidup bersama menjadi lebih efesien. Sebaliknya, infrastruktur miskin akan menyulitkan masyarakat hidup secara teratur dan nyaman.


Kualitas Hidup [Umum]

 

Kualitas Infrastruktur

 

  • Vienna, Austria [1]
  • Zurich, Swiss [2]
  • Geneva, Swiss [3]
  • Vancouver, Kanada [4, seri]
  • Auckland, Selandia Baru [4, seri]
  • Singapura, Singapura [1]
  • Munich, Jerman [2]
  • Copenhagen, Denmark [3]
  • Tsukuba, Jepang [4]
  • Yokohama, Jepang [5]


Ada 39 kriteria yang diperhitungkan. Pada intinya, semua kota diperbandingkan dengan New York yang punya reputasi internasional dianggap sangat unggul sebagai lokasi bisnis. 

Artinya, survei ini hendak melihat daya kompetensi suatu daerah dalam pandangan internasional. Vienna, yang berada di urutan pertama, mendapatkan nilai 108,6. Sedangkan New York sendiri otomatis mendapat nilai 100. Sedangkan Baghad, Irak, memperoleh skor 14,4.

Dari skor tadi terilhat Vienna punya potensi menjadi tempat tinggal bagi tenaga asing yang lebih nyaman daripada New York. Baghdad? Bisa diperhitungkan sendiri.


[Klik masing-masing gambar di bawah untuk melihat di situs www.panoramio.com]

Suasana airport Kota Zurich

Stasiun Pusat Kota Zurich

Uetliberg - Menara Tertinggi di Kota Zurich [187 m]

Gymnasium Im Lee Richenberg [gedung sekolah], Zurich



Pastinya, pengadaan, operasionalisasi, dan perawatan semua fasilitas umum di kota-kota yang nyaman tersebut berbiaya tak sedikit.

Menyenangkan dan Bersih Dari Korupsi

Menarik untuk melihat bahwa berbagai kota yang dianggap memiliki suasana paling memuaskan tersebut juga terletak di wilayah negara-negara yang dianggap paling bersih dari korupsi di dunia. Ini kita bisa lihat dari hasil survei tahunan lembaga Transparency International, yang mengurutkan negara-negara paling bersih di dunia.

[Lihat tentang pandangan Transparency International tentang korupsi di Indonesia dalam artikel "Kasus Bibit-Chandra, Apa Kata Dunia? [Legal]" di Cantik Selamanya [blog]]

Sebut saja Swiss, negara di mana Zurich berada. Pada tahun 2008 dan 2009, Swiss merupakan negara keempat paling bebas korupsi. Juga Austria - beribukotakan Vienna - yang di kedua tahun tersebut berada pada posisi 12 dan 14.


[Klik masing-masing gambar di bawah untuk melihat di situs www.panoramio.com]

Bersihnya pasar tradisional di Yokohama

Nyamannya pelabuhan di Yokohama

Kantin Sekolah di Kota Tsukuba

Terawatnya jalan raya di kota Tsukuba



Tanpa ketertiban penggunaan anggaran negara, segenap cita-cita membangun negara sejahtera tak akan mungkin terjadi.

Sejahtera: Dimulai Dari Rakyat

Kamus Besar Bahasa Indonesia [versi online] mengajarkan kita bahwa "sejahtera" memiliki makna keselamatan seutuhnya. Sejahtera berarti hidup makmur, aman, penuh dengan keselamatan, ketentraman, dan kebahagian. Para pendiri negara mengidamkan bahwa anak-cucunya kelak - kita - memiliki hidup sejahtera [Unduh "Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945", pdf, 106 KB].

Menggapai keberhasilan utuh ini adalah amanat cita-cita dari para pendahulu untuk sekarang kita capai.

Adalah Institut Legatum yang mencari tahu tentang bagaimana tingkat kesejahteraan negara-negara di dunia. Pada 2009, mereka menerbitkan laporan studi tersebut dalam "The 2009 Legatum Prosperity Index" [Unduh, pdf, 6 MB].

Lembaga ini mengkaji 104 negara dari berbagai perspektif, antara lain kondisi ekonomi, kewirausahaan, lembaga demokrasi, pendidikan, kesehatan, keamanan, pemerintahan, kebebasan, dan modal sosial [jaringan antar masyarakat]. Keanggotaan Legatum diwarnai oleh latarbelakang pendukungnya yang berasal dari perguruan tinggi ternama di dunia, seperti Universitas Oxford, Universitas Harvard, dan lain sebagainya.

Faktor-faktor yang dikaji oleh Legatum sebetulnya ingin melihat sejauh mana anggota masyarakat bisa berhasil meraih cita-citanya, mampu melampaui rintangan meraih cita-cita. Sejahtera, sangat erat maknanya dengan keberhasilan meraih cita-cita.

Kendati Legatum melihat kondisi ekonomi merupakan salah satu faktor penentu kesejahteraan masyarakat suatu negara, lembaga ini juga beranggapan bahwa visi bersama mengandung nilai-nilai luhur non-material yang dianut oleh masyarakat setempat.

Negara Paling Sejahtera
Negara Paling Tak Sejahtera
1. Finlandia
2. Swiss
3. Swedia
4. Denmark
5. Norwegia
6. Australia
7. Kanada
8. Belanda
9. Amerika Serikat
10. Selandia Baru
95. Kenya
96. Algeria
97. Tanzania
98. Nigeria
99. Pakistan
100. Kamerun
101. Republik Afrika Tengah
102. Yaman
103. Sudan
104. Zimbabwe


Dari surveinya, Legatum melihat bahwa pada dasarnya masyarakat-lah yang menentukkan arah pergerakan bersama, bukan pemerintah. Namun, pemerintah memiliki begitu banyak akses untuk bisa mengelola modal bersama dan jaringan kerja sehingga kedudukannya dalam menciptakan kesejahteraan umum tak bisa digantikan.

Di sisi lain, penduduk yang terkelola baik senantiasa akan menghasilkan pemerintahan yang kuat pula. Dengan demikian, masyarakat yang lebih "sukses" memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan pergiliran pemerintahan yang kian berhasil.

[Lihat tentang bagaimana pemerintah negara maju saat ini dalam segala sesuatu mengandalkan dialog dengan masyarakat pada artikel "Film Harimau Yang Lapar, Fasisme, Dan Nasionalisme Keluarga" di Cantik Selamanya [blog]]

Dari daftar di atas, lagi-lagi kita melihat tanda bahwa pemerintahan yang bersih memiliki relasi kuat dengan kesejahteraan dan kemampuan menciptakan lingkungan nyaman. Rasa yakin suatu masyarakat akan memiliki hari depan yang baik, akan dapat ditangkap oleh warga lain sebagai rasa aman.

Harapan manusia tak akan selalu menjadi angan-angan,  karena kota-kota tadi memperlihatkan bagaimana cita-cita  memperoleh hidup sejahtera akhirnya bisa berbukti sejati.  Bilamana keinginan bersama tiada, orang asing pun sebetulnya akan merasakan buahnya: menjadi tak nyaman tinggal di negeri kita.

Bilamana Indonesia ingin membangun kota-kotanya yang menjadi nyaman, elok di mata bangsa lain, maka penduduknyalah yang harus memiliki ikhtiar terlebih dahulu untuk mau menjadi lebih baik.

Saat ini, para ahli Legatum memperhitungkan Indonesia sebagai negara paling sejahtera ke-61, berbagi posisi bersama Ukraina. Ini bukanlah pertandingan antar negara, melainkan pesan bagi Indonesia bahwa masih banyak yang harus dibenahi oleh warganya [kita] supaya menjadi setara dengan bangsa lain.





*****






Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







  • God gives us Indonesia. Are we being responsible with His gift to us? And...why don't you gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya"? Okay? ;)
Yuk, gabung?






Cover/ID photo: Dian Manginta [Pribadi]