Dec 8, 2009

Teladan Pertamina Menghadang Pemanasan Global

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya




Dian Manginta - Cantik Selamanya




Tuhan hanya menciptakan satu Bumi. Lihat bagaimana Pertamina turut membantu kita mengerti tentang bagaimana seharusnya suatu perusahaan menjaga kelestarian alam, terutama kala menghadapi pemanasan global.





SIAPA suka dampak pemanasan global? Cuaca jadi tak menentu. Bahkan di Jakarta, suhu di luar ruangan bisa sangat panas dan berubah jadi terlalu dingin dalam beberapa hari saja.

Sedikit googling, kita akan tahu bahwa pemanasan global bahkan tak hanya mengakibatkan es di kutub mencair dan akhirnya akan menyebabkan kenaikan tinggi permukaan air laut sampai menenggelamkan pulau-pulau Indonesia. Wikipedia [favorit Cantik Selamanya], misalnya mengungkapkan perubahan iklim mengakibatkan menggalaknya penularan malaria dan demam berdarah atau penyakit infeksi lainnya, kegagalan panen, sampai menanjaknya biaya perawatan fasilitas publik yang makin rentan rusak karena cuaca kian cepat berubah.

[Lihat artikel "Jual" Saja Pulau Pribadi Ke WNI! [Ini Kuncinya...]" tentang kekayaan pulau Indonesia di Cantik Selamanya [blog]]

Semua orang di Planet Bumi, terkena dampak perubahan iklim. Dan skalanya makin besar, hingga mengancam akan menenggelamkan tempat tinggal kita[!]

Pemanasan Global: Urusan Semua Orang

Dilemanya, buat kebanyakan orang, solusi bagi pemanasan global terkesan tak terjangkau oleh masyarakat awam dan cuma jadi konsumsi para pembesar. Siapa sih yang sanggup menghentikan penggundulan hutan atau membangun tanggul besar untuk menahan gelombang pasang air laut yang kian tinggi?

Prof. Michael Oppenheimer, peneliti pemanasan global dari Universitas Princeton pernah menulis "Global Warming: The Psychology of Long Term Risk" [unduh pdf, 166 KB]. Di situ, ia mengatakan bahwa langkah terbaik untuk meningkatkan upaya mengurangi laju pemanasan global pastinya bukan semata hanya mengandalkan upaya tokoh politis, ekonomi, atau segelintir selebriti.

Oppenheimer mengingatkan bahwa para tokoh tersebut bisa jadi terikat dengan agenda kerjanya sendiri sehingga hasil yang diperoleh dapat saja memiliki kualitas lebih rendah dibandingkan harapan masyarakat luas.

Namun, Oppenheimer menyampaikan bahwa tindakan terbaik adalah dengan membawa masalah ini ke semua tingkatan kelompok masyarakat. Karena masyarakat yang sudah memiliki pengalaman buruk terhadap perubahan cuaca sebetulnya sangat ingin berkontribusi langsung untuk menangani problem besar ini.

Mengikuti anjuran Oppenheimer ini, maka setiap kelompok usaha pun sewajarnya juga berupaya secara aktif dan kreatif menggalang kebijakannya sendiri demi bisa ikut memperbaiki kondisi lingkungan. Kita sebut "sewajarnya", karena mereka pun terancam kelangsungan hidupnya oleh pemanasan global.

[Lihat artikel "Cinta Lingkungan, Juga Di Kantor" di Cantik Selamanya [blog]]

HOT CLIMATE, COOL COMMERCE: A Service Sector Guide to Greenhouse Gas ManagementWorld Resources Institute [WRI] yang bermarkas di Washington DC pernah menerbitkan buku "Hot Climate, Cool Commerce: A Service Sector Guide to Greenhouse Gas Management" [unduh pdf, 2,4M]. Isinya menguraikan bagaimana berbagai perusahaan menciptakan kebijakan internal demi bisa ikut mengurangi emisi karbon tanpa harus mengurangi gairah bisnis masing-masing.

Menariknya, WRI memberikan contoh pada perusahaan-perusahaan jasa [seperti turisme, asuransi, dan real estate, yang notabene tidak memiliki mesin mekanik besar yang bisa mengemesikan gas rumah kaca.

Catatan WRI tentang perusahaan-perusahaan yang diliputnya cukup menarik karena punya daya kreativitas tinggi sehingga bisa mendorong pegawai lebih imajinatif. Buku tersebut tidak membagikan ilmunya dengan pelit sehingga bisa jadi referensi yang berguna supaya kita bisa membangun sistem kerja di kantor yang ramah lingkungan.

Namun bagian yang paling menarik adalah berbagai perusahaan tadi akhirnya menikmati iringan berbagai keuntungan keuangan maupun bisnis atas jerih payah mereka. Selain bisa mengurangi ongkos kerja, perusahaan-perusahaan tersebut juga menikmati meningkatnya nilai nama baik [goodwill] di mata para konsumen.

Di era sekarang, masyarakat akan menilai upaya sebuah perusahaan ikut memelihara lingkungan. Jangankan perusahaan teknik yang operasionalisasinya menggunakan perangkat mesin penghasil gas rumah kaca, perusahaan jasa pun akan mendapat pujian kita semua bilamana berhasil menerapkan sistem kerja ramah lingkungan.

Pertanyaannya: bagaimana dengan perusahaan Indonesia?

Teladan Pertamina Untuk Kantor Anda

Efesiensi memang adalah kata kunci untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Dan seperti kita ketahui, hanya kelompok atau individu unggul yang mampu menciptakan berbagai efesiensi kerja.

[Lihat artikel Toshiba Slim Series Notebook PC PORTÉGÉ T110/T130 - Seperti John D. Rockefeller " untuk topik efesiensi di Cantik Selamanya [blog]]

Dari bermacam contoh yang ditunjukkan oleh buku WRI tadi, kita bisa mengerti bahwa semakin besar suatu perusahaan maka proses penghitungan emisi dan penetapan strategi pun akan makin rumit. Wajar bukan?

Di bidang energi, Indonesia memiliki suatu perusahaan energi terbesar: Pertamina. Perusahaan ini di era lampau sangat berjaya, dan berkesan ekslusif di mata masyarakat. Dapatkah Pertamina mengikuti laju trend dunia untuk menjadi lebih ramah lingkungan? 

Ketika aku periksa, suatu hasil mengejutkan timbul. Ternyata situs Pertamina mencatat cukup banyak kegiatan yang berhubungan dengan pengurangan gejala global warming.

Ketika berselancar di dalam situs Pertamina, kita bisa semakin jatuh cinta terhadap perusahaan BUMN ini. Di dalamnya, terlihat jelas bahwa perusahaan ini berambisi untuk menjadi bertambah efesien, sekaligus mengajak masyarakat untuk turut mencintai lingkungan.

Berbagai prestasi Pertamina catat. Seperti yang mereka lakukan di tahun 2004, dengan meluncurkan produk ramah lingkungan "Musi Cool Refrigerant - Non CFC", media pendingin pengganti CFC pelubang lapisan ozon. Bahan ini bahkan dibuat di dalam negeri, yaitu bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung [ITB], dan sudah dipergunakan oleh berbagai perusahaan besar nasional/internasional.

Kemudian di tahun 2006, Pertamina mengadakan rapat kerja Clean Development Mechanism [CDM], yang tujuan utamanya antara lain mengurangi emisi gas rumah kaca. Dan pada tahun 2008, selain berpatisipasi pada acara Green Festival, Pertamina juga meraih Ozon Award dari Kementrian Negara Lingkungan Hidup RI. Penghargaan diberikan antara lain karena Pertamina menciptakan [dengan biaya riset mandiri] dan memproduksi produk  ramah ozon tadi. Patut dicatat, Majalah Media Pertamina menyebutkan bahwa acara Green Festival 2008 mendapat 46.000 pengunjung [unduh pdf, 1,93 MB]. 

Dan di tahun 2009 ini, Pertamina semakin melebarkan upayanya untuk menggalakkan rasa cinta lingkungan di masyarakat. Yaitu dengan berpartisipasi dalam "Green Initiative Forum" [GIF], sebuah kemitraan dari enam pihak yang sangat peduli terhadap isu pemanasan global. GIF sendiri terdiri dari PT Pertamina [Persero], PT Unilever Indonesia Tbk., Panasonic, FeMale Radio, Kompas, dan MetroTV. Merekalah yang telah menggelar kembali Green Festival pada 05 dan 06 Desember 2009 lalu di Parkir Timur Senayan, Jakarta.

Yang menarik, acara Green Festival ini dikemas untuk menggalang keterlibatan aktif masyarakat, sesuai dengan yang dianjurkan oleh Prof. Oppenheimer tadi. Green Festival dikemas sebagai acara yang edukatif dan informatif, hingga mudah diserap oleh seluruh kalangan masyarakat.

Jadi Pertamina telah mendukung upaya menghadang pemanasan global dalam tiga cakupan kerja nyata: Pertama, dalam menghasilkan produk ramah lingkungan; Kedua, pada sistem kerja internal; Dan ketiga saat mengajak masyarakat memiliki inisiatif untuk mencintai lingkungan.

Lengkap bukan? Siapa yang mau meniru Pertamina, yang berupaya agar layak dipercaya karena mau merawat lingkungan titipan Tuhan?

Yuk, kita ajak warga di kantor kita lebih mencintai lingkungan? Keren loch ;)!





*****






Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







  • God only create one Earth. There, God puts Indonesia's region. And...why don't you gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya"? Okay? ;)
Yuk, gabung?






Cover/ID photo: Dian Manginta [Pribadi]