Aug 18, 2009

Cerber Nita Si Sekretaris (11)

KUTIPAN MINGGU LALU:

Wauw...! Nita hampir tidak sempat menyembunyikan keterkejutannya pada sosok boss yang sedang berjalan di belakangnya. Pasti jalannya ke arah Pak Walker dulu.
Sang Bos - yang selalu bersikap tenang dan sangat kontras dengan tingkah laku Vero itu - berjalan dengan anggun dan kepala sedikit terangkat. Langkah-langkah kakinya tidak buru-buru seperti kebanyakan wanita-wanita karir di gedung tempat Nita bekerja. Walaupun si bos, sudah melihat Nita sejak tadi, namun ketika menengok ke arahnya dan mengucapkan selamat pagi, bos Nita tersebut hanya membalas dengan senyum yang hampir tidak kelihatan. Dingin.
Baru bergabung? Jangan mulai dari episode ini, baca dulu bagian:



*****





Pagi itu, walaupun tadi pagi Nita merasa sangat santai untuk berdandan rapih terlebih dahulu sebelum berangkat kerja, namun penampilan Nita jauuuuuuhhhh sekali dibandingkan bosnya yang sudah menata rambutnya dengan sasakan yang lumayan tinggi. Make-up yang cling, dengan contact lens yang warnanya hitam tapi kecoklat-coklatan. Tapi bajunya dong, wah, Nita tidak merasa cukup memandanginya dari sekedar lirikan mata.

Maka, ketika Nita sudah memasuki cubicle mejanya, Bu Marsya yang sedang melangkah masuk ke ruang kerja Pak Walker, tetap dia pandangi. Hari itu si bos keren itu menggunakan rok selutut dan semi jas warna merah marun dengan sedikit strip berwarna putih di bagian tepinya. Beliau juga menggunakan semacam syal berwarna putih yang sepertinya terbuat dari semacam sutra atau apa, Nita tidak tahu, kelihatannya seperti kain yang lembut sekali.

Bahan lembut gitu kok ga bisa ya dililit-lilit dijadikan baju dalam?

Nita kagum dengan penampilan Bu Marsya yang hari itu memadukan sepatu dan tasnya yang ukurannya lumayan besar, semuanya berwarna putih.

Nita memandangi sang bos memasuki ruang Pak Walker tanpa terlebih dulu menaruh tasnya di ruang kerjanya sendiri. Beliaupun tampak tidak mengetuk pintu ruang kerja Pak Walker yang memang sudah terbuka sejak tadi beliau datang.

Nita Si SekretarisMorning, Walk” sapa Ibu dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Pak Walker yang sedang membaca laporan di mejanya terlihat mengangkat kepala lalu berdiri dan mendatangi bosnya Nita dengan senyum ramah. Entah bilang apa Pak Walker saat itu pada Bu Marsya, mereka berdua memang bukan tipe bos-bos yang suka berbicara dengan volume seperti Vero. Pak Walker hanya keluar sebentar untuk berbicara pada Ellen,”Can you get a coffee for Bu Marsya, please?” Sesudah itu, beliau menutup pintu ruang kerjanya.

Hmmm… oke deh, ga bisa lihat atau denger apapun lagi. So let’s get back to work again.

Nita kemudian mengurus semua urusan photo copy dan distribusi dokumen yang dia sebutkan tadi dengan Usep. Sambil sesudah itu, ia memperhatikan beberapa e-mail yang masuk, membaca di buku agendanya beberapa pekerjaan yang masih harus di-follow up, dan memisahkan dokumen yang akan disimpan kedalam lemari arsip.

Zzzzzzzzz zzzzzzzz zzzzzzzzz

Hmmm… ada SMS datang.

Dari Pak Wiguna!

Mbak Nita, siang ini messenger saya titipkan makan siang oleh-oleh dari Solo. Saya baru tiba tadi pagi dan masih sempet bawa. Mudah-Mudahan Mbak Nita suka. Selamat menikmati.

Ihhhh… tanpa sadar, wajah Nita kemerah-merahan membaca pesan SMS tersebut. Untung saja tidak ada yang memperhatikan kalau Nita sedang berbunga-bunga hatinya membaca pesan simpatik dari sang secret admirer.

“Nit! Pssst! Nit!” suara Ellen terdengar mendesis dari partisi sebelah sana.

Nitapun menengok ke arahnya, lalu dengan ekspresi seperti sedang ada berita yang seru, Ellen memberikan kode dengan menggeleng-gelengkan kepala menunjuk arah ruang kerja Pak Walker. Dengan mata yang melotot, ia mengkomat-kamitkan kata-kata "nyokap lo lagi ribut tuh sama babe gue".

Oh ya? Nita menjawab Ellen dengan komat-kamit juga.

Rrrrrr…rrrrrr…..rrrrrrrr… Ellenpun masih belum puas dan menelpon Nita.

“Lo tau ga, Sarah kan mau masuk besok,” kata Ellen dengan bersemangat.

“Sarah? Sarah, siapa?” tanya Nita seperti orang bodoh.

“Lo kok ga tau sih? Sarah itu yang jebolan magister bisnis dari Amrik.”

“Oh..” Nita rasanya pernah dengar ada seseorang dengan imbuhan magister bisnis dari Amerika Serikat. Siapa ya yang waktu itu bilangin ke gue? Nita jadi berpikir dalam hati.

“Babe gue tuh ga setuju dia masuk sini,” kata Ellen. Sok tahu.

“Eh, babe gue tuh bilang sama Andy Smith, kalo babe belum kasih persetujuan buat rekrutmennya Sarah,” sambung Ellen lagi seolah-olah bisa membaca pikiran Nita.

“O.” Nita cuma bisa mengkerutkan keningnya. Kalau mau jujur, sebenarnya Nita pingin menjawab Ellen: so what? Emang gue pikirin.

“Nyokap gue sih ga pernah bilang apa-apa ke gue soal Sarah,” sahut Nita.

“Mbak Nita, ada yang kirim barang, Mbak!” teriak Usep dari arah pintu menuju reception.

Nita menoleh dan hanya menjawab Ellen,”Ntar lagi, ya.” Lalu mematikan telponnya.

Sambil berjalan menuju area reception, Nita merasakan rasa bersalah karena belum membalas pesan teks dari Pak Wiguna tadi. Ia juga tak habis pikir, kenapa Pak Wiguna begitu peduli padanya. Segitu banyak perempuan cantik… kenapa dia cari perhatian sama gue sih? Nita agak bingung, apakah si vendor ini sebaiknya dicurigai atau disambut saja kebaikan-kebaikan hatinya itu. Sejauh ini sih memang tidak ada tingkah laku Pak Wiguna yang keterlaluan terhadap Nita.

Di meja reception, Nita menerima sebuah bingkisan kotak terbungkus kertas dari seseorang yang disebut Pak Wiguna adalah seorang messenger, tapi memiliki penampilan yang bersih, rapih bahkan terlalu keren untuk ukuran seorang messenger.

“Mbak Nita?” sapa si messenger pada Nita dengan senyum ramah.

“Ini titipan dari saudara saya,” katanya masih dengan senyum ramah mah mah mah…

Nita menerima bungkusan tersebut dengan hati dag dig dug… Ia merasa seperti sedang tersanjung, bahagia diperlakukan dengan baik oleh si messenger keren, dan tidak menyangka dengan cara Pak Wiguna membawakan bungkusan tersebut dikirim oleh seorang yang disebutnya messenger namun justru oleh si messenger diakuinya sebagai saudara… Aduh, bingung ah…

Nita hanya mengangguk dan sambil tersenyum kikuk ia menerima bungkusan tersebut dari messenger misterius itu. Si messenger kemudian masih dengan senyum ramahnya – persis dengan tingkah lakunya Pak Wiguna sewaktu bertemu Nita waktu itu – melangkah ke arah lift lalu memencet tombol ’turun‘ lift.

Sayangnya, lampu lift tidak juga berkedip-kedip menandakan pintu lift akan terbuka dan dengan bodohnya Nita hanya berdiam diri menemani sang messenger menantikan pintu lift terbuka.

Lampu lift kemudian berkedip-kedip sekitar tujuh menitan kemudian. Si messenger yang sejak tadi hanya memandangi pintu lift kemudian menoleh ke arah Nita dan ketika pintu terbuka ia memberikan senyumnya, ”Mari..” Katanya dengan sopan dan senyum ramah sambil berjalan memasuki lift.

Nita membalas senyuman si messenger sambil tetap dengan kaku memegang erat bungkusan itu.

“Hmmm…” suara Asti terdengar dari punggung Nita.

Ia tidak berkata apa-apa tapi sibuk mengamat-amati meja reception dan bertanya ke Pak Satpam yang sedang duduk disitu, ”Mana si Susi?”

“Ada, Mbak. Lagi di toilet..., jawab Pak Satpam.

“Kok lama banget?” tanya Asti lagi, tapi pojok matanya mengarah ke Nita yang sudah mulai melangkah menuju meja kerjanya lagi.

Eh, tapi ternyata Asti tidak tertarik dengan jawaban Pak Satpam, karena kemudian nyatanya ia berjalan balik ke meja kerjanya juga.

Ngapain sih tu anak?, tukas Nita dalam hati.

“Enak ya suka dapet hadiah-hadiah vendor, dimakan sendiri,” tiba-tiba Asti menyindir nyinyir ke arah Nita.

Nitapun menoleh dan jadi marah.

“Nit, Nit! Buruan sini!” kata Ellen masih dengan suara mendesis sambil menunjuk-nunjuk ruang kerja Pak Walker. “Liat tuh!” katanya lagi.

Nita buru-buru meletakan bungkusan tersebut dan sambil sedikit membungkuk di dekat meja Ellen, Nita melirik ke arah jendela ruang kerja Pak Walker.

Alamak! Baru pertama kali ini Nita melihat Bu Marsya berdiri dengan tangan bertopang di meja Pak Walker sambil berbicara dengan wajah yang sangat marah.

“Ibu kenapa?” tanya Nita ke Ellen.

“Emang mak lo tuh keras kepala,” jawab Ellen, masih sok tahu.

Nita merinding melihat mereka terlihat sedang bersiteru. Pak Walker yang selama ini selalu bersikap halus juga terlihat menatap tajam ke arah bosnya. Pak Walker yang duduk sambil melipat tangannya sekali-kali menunjuk-nunjuk ke arah Bu Marsya.

Tapi suara mereka terlalu pelan untuk didengarkan secara diam-diam. Walaupun mereka – termasuk Asti yang tadinya marah-marah sendirian – mencoba menyimak pembicaraan bos-bos yang ada di dalam ruangan tertutup itu, yang terdengar hanyalah suara Bu Marsya,”I DONT care.”

Nita buru-buru balik lagi ke meja kerjanya.

Tapi, aduh! Ia ingat sesuatu. Ya, ampun! Masa sih dia tidak ingat menanyakan siapa nama si messenger tadi. Aduh, gue lupa!

Ya, jelas saja lupa kalau belum-belum sudah tersanjung duluan dengan kehadiran seseorang yang mirip dengan Pak Wiguna yang baik hati itu…

Hmmm sepertinya Nita mulai jatuh hati pada Pak Wiguna…

No! No! Hes still a stranger. Harus hati-hati pada orang yang ga dikenal, tukasnya dalam hati sambil meraih telpon selularnya, dan mengetik pesan balasan ke Pak Wiguna.

Pak Wiguna, terima kasih banyak. Titipannya sudah saya terima. Terima kasih, saya nggak enak merepotkan.

Brakkk! Suara pintu ruang kerja Pak Walker dibanting Bu Marsya. Duh! Nita kaget setengah mati!

Bu Marsya masih dengan wajah dingin berjalan menuju ruang kerjanya. Kemudian, pintu ruang kerjanya dibantingnya juga!

Brakkkk!

Nita kaget yang kedua kalinya.

Tapi... Oh… Pak Walker ternyata berjalan dengan tergesa-gesa memasuki ruang kerja Bu Marsya dan menutupnya dengan pelan.

Behave yourself,” nada suara Pak Walker terdengar tinggi dan si bule tua itu masih berbicara sambil menunjuk-nunjuk ke arah Bu Marsya.

No option...” Itu suara Bu Marsya yang terdengar. Suaranya emosional.

Sambil membaca e-mail yang masuk dari Sisca mengenai laporan Balikpapan, Nita mendengar mereka mengucapkan kata-kata ‘should be’, lalu ada ‘where’, ‘that’, ‘how’, Ah…! Pusing…! Nita tidak bisa memastikan sebetulnya mereka itu berantem soal apa.

Rasanya bagaimana, begitu… Suara ribut-ribut itu berasal dari dalam ruangan bosnya yang ada di depan mejanya, tapi, di setiap e-mail yang masuk harus dibacanya dengan teliti, namun… dari dalam ruang kerja si Ibu masih juga mengganggu konsentrasinya dengan ucapan-ucapan bernada tinggi diantara Bu Marsya dan Pak Walker.

Nita akhirnya mengulang lagi pesan e-mail yang disampaikan Sisca: that the recommendation on the chapter three has been amended by adding some… “NO!” teriak Bu Marsya…

Hhhhh…! Nita membelalakan matanya lagi. Ia mencoba memastikan bahwa ia menangkap dengan baik pesan Sisca tadi.





Bersambung



Baca juga: "Pembacaan Cerber "Nita si Sekretaris" di Radio Cempaka Asri FM!"




Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya