Aug 4, 2009

Cerber Nita Si Sekretaris (9)

KUTIPAN MINGGU LALU:

Cihuiii…!

Rasanya ia ingin sekali melompat-lompat ketika meninggalkan ruang kerja Vero. Namun semua perasaan gembiranya tersebut ditahannya saja di dalam hati.

Apalagi, belum sempat ia meluapkan rasa gembiranya, dari ujung jalan sudah terlihat si Bagus sudah berdiri menantikannya di pinggir partisi meja Nita.

Oh iya, aduh! Bahan presentasinya mau dipakai Bu Marsya!

Walaupun hatinya sedang gembira, ia kembali buru-buru mengurus persiapan bahan meeting untuk si boss yang akan berjalan hampir satu jam lagi. Nita juga masih memastikan dokumen yang harusnya sudah diserahkan Sisca.

Apalagi nanti siang Bu Marsya akan kedatangan beberapa tamu dari luar perusahaan, Nita juga harus memastikan ruang meeting betul-betul dapat dipakai untuk kepentingan meeting Bu Marsya.

Sepertinya nampak di wajah Nita sedang berbicara sambil tersenyum di telpon dengan travel agent ketika mengurus perjalanan Vero. Ia juga tampak terlihat senang ketika mengurus ke bagian keuangan dan SDM untuk semua urusan terkait dengan perjalanan si bos yang bukan bosnya. Ia juga tidak ingat lagi kalau semua itu seharusnya dikerjakan Tasya.
Baru bergabung? Jangan mulai dari episode ini, baca dulu bagian:


*****


Cantik Selamanya - Terbaik untuk Indonesia



Hawa Baru




Pagi ini, fajar telah datang… Sudah beberapa minggu tidak ada hujan. Hawa lumayan panas mulai menyergap kamar kost Nita dan mungkin karena itu dia terbangun dari tidurnya.

Namun, ini adalah hari yang istimewa bagi Nita. Ia terbangun dengan senyum merekah di wajah.
Ahhhh… sekejap ia langsung teringat bahwa ini adalah hari kebahagiaannya karena hari ini, ia bebas dari Vero.

Jadi, rasanyaaaa… ia masih ingin menghabiskan lebih banyak waktu lagi melamun di tempat tidur tidak ingin melewatkan nikmatnya rasa lega, ringan, dan longgar dalam suasana batinnya.

Lord, thank you for the job You have given me. I am honestly happy enjoying this working day without Vero surrounding me.

I am sorry, Lord. Yet, please bless me for today.

Nita bahkan menaikkan doanya di pagi ini masih dengan senyum yang masih merekah.

Ia membayangkan betapa selama lima hari kerja ini, ia akan bebas dari seseorang yang walaupun hanya bertemu di koridor saja sudah mendelik padanya. Ia juga bahagia karena pada lima hari kerja ini, mau Tasya ada ataupun tidak ada di kantor, ia tidak akan kena sasaran pengalihan tanggung jawab kerja dari Vero, karena si Vero sendiri tidak ada di kantor!

Nita Si SekretarisHhhhh… dengan meregangkan seluruh badannya yang masih di atas tempat tidur, akhirnya Nita bangun juga dari tidur.

Tidak seperti biasanya, dengan pikiran tenang dan merasa harus buru-buru berangkat kerja, Nita mengurus semua pakaian kering yang sudah beberapa hari yang lalu dicucinya. Beberapa lembar pakaian ia keluarkan dari dalam lemari tempat ia menyimpan pakaian-pakaian yang masih lecek tersebut yang akan disetrikanya entah kapan untuk dilipat-lipatnya saja.

Kemudian ia juga mempersiapkan tas yang berbeda dari yang kemarin untuk disesuaikan dengan pakaian yang akan dipakainya hari ini. Setelah isi tas dikeluarkan semua, ia juga menghitung-hitung uang yang masih tersisa dari gajinya dan memisahkan sebesar tiga puluh lima ribu Rupiah yang kemudian ditaruhnya di dalam dompet. Dalam perhitungannya, jumlah tersebut masih lebih besar dari biaya makan siang dan transportasi ojeknya, tapi juga dia sengaja menganggarkan uang sakunya lebih besar dari jumlah makan dan ojeknya itu untuk hal-hal jika memang ada pembayaran di luar dugaan pada hari itu. Dengan cerdas, Nita menyimpan setiap kelebihan uang tersebut di laci kantornya sebagai tabungan hariannya.

Yah, begitulah cara Nita mengakali pembiayaan hidupnya sehari-hari. Maklum saja, dengan gaji empat jutaan, ia harus dengan cermat mengatur pengeluaran untuk bayar kos, makan pagi-siang-malam, bayar stok air, keperluan cuci dan mandi, dan lain-lainnya.

Dalam beberapa hal memang Nita kelihatan sangat taat mematuhi undang-undang pengetatan anggaran yang dibuatnya sendiri.

Dulu memang Nita tidak seperti itu, namun perubahan revolusioner tersebut dilakukannya setelah ayahnya meninggal beberapa waktu yang lalu.

Makanya tidak heran, jika sekali-kali ia mencari-cari berbagai alasan untuk menolak secara halus ajakan teman-temannya untuk makan siang di tempat yang perkiraannya akan mengeluarkan uang lebih dari jumlah tiga puluh lima ribu Rupiah itu.

Yah, mungkin gaji mereka sama aja dengan gue, tapi mungkin mereka masih dapat uang saku dari orang tua atau suami, jadinya mereka bisa pergi ke tempat makan siang yang harganya beda dengan tempat tidak berpendingin udara.

Sambil memandang ke kaca hendak menyikat gigi, Nita memandang dirinya yang… yah, pokoknya, jangan deh bandingkan kemampuan membeli makan siang Nita dengan Bu Marsya. Jauuuhhh… Dengan Ellen saja, yang sama-sama sekretaris, sering kali sangat berbeda. Maksudnya, biarpun sudah tanggal tua, makanan yang dibeli Ellen cenderung lebih mahal.

Gosipnya sih, Ellen terima gaji sekitar dua kali lipat dari yang diterima Nita. Kata omongan teman-teman, dia terima gaji dengan ukuran yang istimewa karena dia lulusan college dari Perancis. Dan, memang kadang-kadang Nita mendengar Ellen berbicara lewat telepon dengan teman-temannya di luar kantor dengan bahasa Perancis. Sekali-kali dia berbicara bahasa Perancis dengan Andy Smith, yang bahasa Perancisnya masih patah-patah. Tapi dalam bahasa korespondensi sehari-hari di perusahaan sih sama sekali tidak pernah menggunakan Bahasa Perancis. Jadi, apa ya sebab dan ukurannya ya sampai-sampai dia terima gaji jauuuhh dari yang Nita terima? Ah, itu kan baru gossip, belum tentu juga kalau memang betul Ellen terima gaji segitu banyak.

Nita berkumur-kumur dan mulai membersihkan wajahnya dengan sabun pembersih wajah.

Yahhhh.. mau dibilang apa? Nita merasa yang diterimanya sudah cukup. Apalagi kalau dia rajin menghemat dengan pengeluarannya, yah semua biaya yang bisa ditunda pengeluarannya masih bisalah tertutupi.

Setelah itu ia bersiap-siap mandi.

Tapi Nita ingat hal ini dan ia juga masih mensyukurinya karena masih bisa mengirimkan uang untuk Mama yang untungnya cuma minta dikirimkan uang satu juta saja, supaya kata Mama, tidak terlalu memberatkan Nita.

Memang, setelah Papa pergi dengan perempuan yang merupakan teman sekantornya itu – tapi bukan sekretaris loh… memang cuma sekretaris saja yang suka selingkuh – Mama mulai mengurus tanaman yang ada di pekarangan dengan lebih serius dan mencoba menjualnya sedikit-dikit. Ditambah lagi, Mama juga pernah bilang bahwa ia merasa tidak enak menerima uang dari Nita yang jumlah kirimannya satu juta per bulan.

Makanya, Nita menjalani kehidupannya dengan tabah ya mencontoh Mama. Beliau tidak pernah Nita dapati sedang menangis atau jadi putus asa. Mama mendorong Nita terus untuk hidup dengan rajin dan bertanggung jawab.

Keluar dari kamar mandi, Nita jadi teringat dengan obrolannya bersama Pak Hardi yang orang SDM itu. Beliau itu pegawai dari divisi SDM yang sudah agak tua tapi gerak-geriknya sering keperempuan-perempuanan.

“Eh, kamu memang anak yang baik lho, Nit.” Kata Pak Hardi suatu hari. “Kalau kamu tidak lupa memberikan sedikit dari gajimu itu pada orang tua sendiri.” Padahal Nita tidak curhat sedikitpun, mau mengenai pengiriman uang ke orang tua atau apapun padanya.

Sambil menyisir rambutnya, Nita jadi tertawa sendirian mengingat gayanya Pak Hardi yang kelihatan banget sok akrabnya.

Ah, kembali kepada hal semula, hari ini Nita tidak memiliki beban berat untuk melangkahkan kaki berangkat menuju kantor.




Bersambung



Baca juga: "Pembacaan Cerber "Nita si Sekretaris" di Radio Cempaka Asri FM!"




Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya