Sep 14, 2009

Kepemimpinan - Aspek Lain dari Kepercayaan Diri

Dian Manginta - Cantik Selamanya



Kisah kepemimpinan Sofia temanku menginspirasiku hari ini untuk mempelajari lebih jauh tentang kepemimpinan. Apa itu kepemimpinan? Well, seperti biasa, aku suka memakai Wikipedia sebagai salah satu referensiku, dan inilah yang aku temukan di sana:

    Leadership is and has been described as the “process of social influence in which one person can enlist the aid and support of others in the accomplishment of a common task”.

Secara bebas aku bisa terjemahkan begini “Kepemimpinan acapkali merujuk pada kemampuan menciptakan proses pengaruh sosial agar para anggotanya bisa saling menolong dan akhirnya bersama mampu menyelesaikan suatu tugas.”

Dalam paragraf sama dalam halaman di Wikipedia tersebut masih ada sambungan mengenai apa yang dimaksud dengan kepemimpinan:

    A definition more inclusive of followers comes from Alan Keith of Genentech who said “Leadership is ultimately about creating a way for people to contribute to making something extraordinary happen.” [Alan Keith dari Genetech menyebutkan bahwa kepemimpinan pada akhirnya/ultimately adalah kemampuan menciptakan jalan agar orang-orang dapat saling berkontribusi untuk menciptakan sesuatu yang luarbiasa.]


Dian Manginta Bicara KarirAku suka kata “ultimately” di situ sehingga sebetulnya enggan menerjemahkannya. Tetapi tentu saja ini menunjukkan suatu penekanan tentang tingginya nilai guna kepemimpinan dalam menciptakan suatu cara tertentu. Dari definisi Alan Keith kita bisa mengerti bahwa pemimpin adalah seorang yang membuka jalan bagi orang lain untuk bisa bersatu.

Kalau kita mengingat kisah kepemimpinan Sofia, inisiatifnya telah menyebabkan tujuan pembetukan Emergency Response Team [ERT] di perusahaannya bisa terpenuhi dengan baik. Ini karena setiap karyawan di departemennya dapat terdeteksi keberadaannya dan lantas mendapatkan perhatian sewajarnya. Karena inisiatif Sofia yang diambil tanpa supervisi dari atasannya, bantuan dapat diberikan kepada rekan-rekan sedepartemennya yang menjadi korban banjir bandang.

Pemimpin Itu Bukan Sekedar Dilahirkan

Tapi harus dicatat, bahwa kepemimpinan bukanlah nature by born. Bukan sekedar bakat. Tidak juga jadi melekat karena bagian dari fungsi jabatan.

Misalnya karena seorang menduduki posisi manager, maka dia jadi memiliki karakter kepemimpinan. Bukan. Sofia berhasil mengembangkan kepemimpinannya karena perusahaannya secara konsisten dan dalam frekuensi yang tinggi selalu mengingatkan kepada karyawan akan pentingnya ERT.

Jadi, ada yang namanya proses pembelajaran kontinu. Dan akhirnya, yang diajar bisa jadi mengerti.

Karena temanku itu mau gak mau belajar mengenai ERT, akhirnya ia berhasil memahaminya. Saat ditambah dengan perhatian yang besar terhadap rekan sekerjanya serta keinginan untuk ikut mensukseskan program perusahaannya, maka Sofia berhasil menunjukkan kepemimpinan dalam penerapan program ERT perusahaannya. Dan sebagai bonus, atas rekomendasi rekan-rekannya [bukan manager-nya, loh!], Sofia pun mendapat penghargaan. Tentu Sofia mendapat kepuasan bathin tersendiri dari pengalaman itu.

Berusaha Keras Memperbaiki Diri

Kesimpulannya, kita akan memiliki kemampuan menjadi pemimpin dalam suatu bidang atau kegiatan apabila kita:
  • menguasai bidang tersebut,
  • peduli kepada orang-orang di sekitarnya,
  • mempercayai proses yang telah ditentukan,
  • dan memiliki keinginan untuk ikut ambil bagian dalam mensukseskan kegiatan yang dimaksud.

Bisa dicatat di sini, bahwa kalau kita acuh tak acuh kepada lingkungan, meskipun kita menguasai atau mengerti prosesnya, maka rona kepemimpinan kita tidak akan terlihat. Dari contoh pengalaman temanku di atas, aku melihat bahwa apabila sikap kepemimpinan ini dilatih dengan baik, maka rasa percaya diri kita pun akan semakin kuat.

Riset Mutakhir: Kepemimpinan Tidak Instan

Dian Manginta - Cantik SelamanyaAdalah Prof. Pierre Balthazard, seorang guru besar ilmu bisnis dari Universitas Negara Bagian Arizona [disingkat ASU], yang ikut melakukan riset mengenai kepemimpinan. Untuk itu, ia turut mengajak sekelompok ahli saraf untuk meneliti otak para pemimpin.

Tim Prof. Balthazard melakukan pengidaian arus otak dengan metode electroencephalography [EEG] dan psychometrics/psikometri untuk memetakan cara kerja otak, baik pikiran ataupun kecerdasan, saat menghadapi situasi-situasi yang memerlukan rasa kepemimpinan. Lihat EEG dan psychometrics di Wikipedia.

Situs ASU menuturkan bahwa pada bagian pertama pekerjaanya, ASU memeriksa 50 peta otak dan hingga Februari 2009 sudah berhasil merekam data dari 200 orang. Tujuan dari pekerjaan ini pada akhirnya adalah untuk mengetahui impuls tertentu yang akan memberikan hasil spesifik yang berkaitan dengan sikap kepemimpinan.

Namun CNN yang mewawancarai Balthazard mencatat pernyataannya bahwa bagaimanapun pembentukan kepemimpinan bermetode canggih tersebut harus didahului dengan kepemilikan jiwa kepemimpinan dari subyek yang hendak "berlatih". Jadi, bahkan pelatihan leadership super modern ala Prof. Pierre Balthazard, ternyata memiliki syarat bahwa yang mengikutinya telah terlebih dulu menunjukkan kualitas memiliki jiwa moralitas seorang pemimpin.

Sekali lagi terlihat, bahwa ternyata kepemimpinan lahir dari latihan terus-menerus, dan tidak bisa muncul secara sekejap. Pemimpin, karena tugasnya membukakan pintu, harus berjuang dalam otak dan hati untuk sedemikian rupa berkembang hingga mampu menjadi pahlawan bagi orang lain.

Seorang pemimpin harus punya kepercayaan diri tinggi untuk bisa membangkitkan semangat percaya diri dari orang-orang yagn dipimpinnya.

Bagaimana, tertarik menjadi pemimpin?


*****


Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:








Yuk, gabung?