Dec 10, 2009

Bisakah Festival Film Indonesia [FII] Selamatkan Kita?

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya








Dari film, kita bisa menangkap apa yang sebetulnya kita ingin lihat dari dalam hati dan pikiran. Pesan film Indonesia, bisa menguatkan ungkapan suara hati kita sebagai bangsa. Dahulu, Albert Einstein sudah mengajarkannya di Amerika Serikat.





ADA teman yang kala itu baru saja melihat film "2012". Dia kesal melihat film itu, katanya, "no Indonesians were saved there. They all just left us to be doomed!". Rupanya, Evita [sebut saja nama teman itu demikian] kesal karena tak melihat ada orang yang diselamatkan di film tentang mega tsunami itu.

Saya tak pernah melihat film 2012. Tapi kebetulan Evita, barangkali karena melihat film bertopik "nyaris kiamat", sudah pernah melihat beberapa tayangan layar lebar dari Hollywood yang punya tema sama.

Yang mengejutkan saya, Evita mengaku sampai menitikkan air mata waktu menonton film ini. Kenapa? Karena alasan yang sama: ia tak melihat ada satupun orang Indonesia yang selamat di sana. What's the big deal?

Poster "2012"

Klik pada gambar di atas untuk melihat catatan tentang film "2012" di Wikipedia

Evita menjawab, "Karena teknologi Indonesia 'kan agak ketinggalan. Kalau ada bencana sebesar itu, ya... orang sedunia bisa mikir, 'apa gunanya lo kite selametin?'...Terus, kita semua mati deh."

Bencana alam besar bisa saja terjadi. Seperti kejadian jatuhnya meteor di Bone, Sulawesi Selatan pada Oktober 2009 lalu, yang ledakkannya beberapa kali daya bom Hiroshima [lihat di situs msnbc.com]. Syukur, meteor itu tak jatuh di salah satu pulau Indonesia yang padat penduduknya.

Bagaimanapun, klarifikasi tentang jatuhnya meteor tersebut datang dari negara lain yang lebih maju teknologinya. Dari cerita Evita, film-film bencana mengingatkan dia kalau teknologi tinggi bisa membantu kita mengantisipasi bencana.

Repotnya, di film-film bencana Hollywood lainnya [misalnya "Independence Day", atau "Armageddon", lihat daftarnya di Wikipedia], tak ada satu karakter orang Indonesia pun yang nampak berhasil lolos atau turut menyumbangkan solusi. Jadi, film-film tadi membuat Evita merasa bangsanya tertinggal. "Die selamet, guwe kagak", begitu katanya.

Einstein: Siap Berubah

Sampai di sini, saya berhutang untuk mengungkapkan latar belakang Evita: Dia sudah belasan tahun bergelut di bidang teknologi.

Pantas. Evita menerima kesan dari sudut pandang tersebut karena memang memiliki latar belakang yang menyiapkan dia untuk berpikir demikian.

Nothing new in this world, tak ada hal baru di muka Bumi ini. Kalau Evita bisa terdengar "salah" dengan kesimpulannya, semua manusia di sepanjang jaman pun demikian.

Contohnya sederhana saja, hampir kita semua berpikir bahwa Einstein adalah ilmuwan paling jenius bukan? Apa yang salah dengan anggapan tersebut?

Assc. Prof. Michael Madow pernah menulis "Private Ownership of Public Image: Popular Culture and Publicity Rights", yang isinya menyinggung fabrikasi kisah hidup Albert Einstein oleh media [lihat di sini]. Madow menuturkan bahwa sebetulnya, sewaktu Einstein hidup, dunia memiliki banyak ilmuwan jenius dan mereka tak bisa dianggap kurang pintar dibanding dia.

Albert Einstein, dianggap sebagai manusia paling
jenius sepanjang masa

Klik gambar di atas untuk melihat profil Einstein di situs majalah Time [Person of the Century]


Bahkan, sebetulnya, kontribusi Einstein pantas dianggap lebih kecil dibanding ilmuwan lain seangkatannya. Lantas, mengapa bahkan sampai Majalah Time memilihnya sebagai "Manusia Abad Ini"?

Ternyata, Madow mencatat bahwa sedari semula Einstein menikmati mendapat kesempatan publikasi yang bombastis. Yaitu, Einstein "memanfaatkan" gerhana matahari yang terjadi di Eropah pada Mei 1919 sebagai wahana membuktikan teori relativitasnya. Didramatisir oleh suasana magis gerhana, media setempat lantas mengolah publikasi diri Einstein sebagai hal lebih dari luar biasa.

Namun, ada yang lebih penting dari faktor kebetulan tersebut. Yaitu, karena masyarakat di Amerika Serikat yang saat itu sedang diresahkan oleh isu rasial, melihat Einstein sebagai icon budaya. Sosok DR. Einstein yang beremigrasi ke Amerika Serikat pada April 1921, dianggap sebagai tanda keunggulan negara tersebut dibanding belahan Eropah.

Seperti temanku Evita, masyarakat Amerika Serikat - kemudian diikuti oleh seluruh dunia - membangun satu persepsi berdasarkan aspirasi yang hendak mereka ingin bangun. Bentuk suatu persepsi acapkali bergantung pada kondisi yang kita anut, tanpa harus mencari tahu nilai kebenaran atau fakta dan logika sebetulnya.

We will believe in what we want to believe

FFI: Menginspirasikan Keunggulan Indonesia?

Film yang baik memang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi imajinasi, membolak-balik emosi kita. Ia bisa menguatkan keyakinan tentang suatu hal yang sudah ada di hati kita. Seperti Evita yang yakin bahwa teknologi dapat menyelamatkan jalan meraih cita-cita, hingga ia melihat Indonesia butuh kemajuan teknologi manakala menonton film 2012. 

[Lihat bagaimana figur besar yang tak kita kenal bisa menolong untuk mengembangkan citra diri pada artikel "Belajar Citra Diri Dari Selebriti" di Cantik Selamanya [blog]]

Melihat contoh Evita dan film 2012, ditambah dengan referensi hidup Einstein, kita bisa mengerti kalau segala macam tayangan bisa membantu untuk meningkatkan citra diri, menambah keyakinan diri.

Apalagi di era sekarang, saat kita harus berupaya menerima pengaruh positif dari luar, wajib pandai bergaul dengan bangsa lain. Karena pengaruh positif tersebut, bisa berarti kesempatan lapangan kerja yang lebih luas atau makna perbaikan kualitas hidup lainnya.

[Lihat kisah nyata bagaimana kita bisa mendapatkan kesempatan membuka lapangan kerja dan menguasai teknologi dari kalangan asing pada artikel "Indonesia Loves Mercedes-Benz' Technology - True Icon of Luxury" di Cantik Selamanya [blog]]

Sebentar lagi kita akan disuguhi oleh tayangan penganugerahan "Festival Film Indonesia 2009", melalui layar RCTI, pada hari Rabu, 16 Desember 2009 WIB. Acaranya berskala besar, karena FFI 2009 diikuti 118 film yang terdiri atas 40 judul film bioskop, 38 judul film dokumenter, dan 40 judul film pendek.

Banyak nama besar ada di belakang FFI 2009. Sebut saja El Manik dan Jajang C. Noer yang jadi Dewan Juri Film Bioskop. Atau Niniek L. Karim yang menjadi Ketua Komite FFI 2009. Sudah pasti kualitas dan kuantitas pengaruh FFI bagi dunia perfilman Indonesia akan besar nilainya.

Ditambah lagi dengan fakta yang dilansir oleh Niniek L. Karim [ke kontributor Cantik Selamanya] bahwa FFI 2009 diselenggarakan oleh Komite Festival Film Indonesia [KFFI] yang dibentuk oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Bisa dipastikan bahwa output FFI layak dijadikan kualitas film Indonesia yang lebih baik.

Energi publikasi pun tak kecil, karena RCTI melalui Harsiwi Achmad, Direktur Program, menjanjikan pihaknya bukan hanya akan menggelar karpet merah, namun juga mengemas keseluruhan acara menjadi tontonan yang menghibur bagi seluruh rakyat Indonesia.

Niniek L. Karim, Ketua Komite Festival Film Indonesia, Penyelenggara FFI

Klik gambar di atas untuk melihat profil Niniek di situs tamanismailmarzuki.com


Sembari menunggu untuk menonton FFI di stasiun favorit RCTI, [ditayangkan live, Rabu, 16 Desember 2009, "Red Carpet" pukul 19.00 WIB], kita bisa bertanya, "bisakah FFI selamatkan Indonesia?".

Seperti Amerika jadi PeDe dengan kedatangan Albert Einstein, mari kita lihat FFI sebagai berkah supaya kita bisa melihat saluran citra diri yang membanggakan negara tercinta Indonesia?

Siapa tahu, suatu saat nanti film Indonesia ditonton di Amerika? Dan saat itu, ada penontonnya yang sedih dan bertanya, "why there is no American saved there"?

Ingat saja. Tak ada yang baru dalam sejarah. Mari kita ciptakan sejarah di masa depan yang baik sedari sekarang.





*****






Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







  • Let us create this future from now, that people around the globe will envy us. And...why don't you gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya"? Okay? ;)
Yuk, gabung?






Cover/ID photo: Dian Manginta [Pribadi]