Sep 24, 2009

Romance: Sulit Minta Maaf dan Memaafkan?

Cantik Selamanya.com



"Karena rasa maaf itu mahal, maka beruntunglah mereka yang bisa memberikan maaf. Di antara manusia yang rentan berbuat salah, mereka adalah orang-orang kaya yang tinggi manfaatnya ."





Dian Manginta - Cantik Selamanya

Klik gambar di atas untuk melihat kartu ucapan Hari Raya dari Dian Manginta.

Masih dalam suasana Idul Fitri. Saat-saat ini, kata “maaf” menjadi sangat terkenal; aku jadi ingin menulis tentang "maaf" dalam rubrik romance kali ini.


Baru saja aku mulai memikirkan judulnya, karena sudah tahu temanya, langsung di kepalaku terbersit lagu ini:.


"Maafkan aku
Menduakan cintamu
Berat rasa hatiku
Tinggalkan dirinya
Dan demi waktu
Yang bergulir di sampingmu
Maafkanlah diriku
Sepenuh hatimu
Seandainya bila kubisa memilih..."


Betul sekali, saudara-saudara, penggalan kalimat-kalimat di atas adalah petikan lirik lagu “ Demi Waktu” dari Ungu. Wah, tema lagunya gak enak, ya :)? Tentang permintaan maaf karena hati yang mendua.. Tapi, kok enak bener...! Gak setia, terus minta maaf?

Kalau merasa bersalah ya memang harus minta maaf. Soal masalahnya apa, kita bicarakan di lain topik, dong? Sekarang kita bicara soal maaf-memaafkan saja dulu.

 

YouTube - demi waktu - For The Sake Of Time (Demi Waktu)- English Subtitle · Added. 5:00. Ungu ...4 min 50 sec -  
http://www.youtube.com/watch%3Fv%3DGG5R3DObFjY


Meminta maaf dalam urusan romance itu penting, loh. Aku pernah mendengar ada orang yang enggan mengucapkan kata maaf. Katanya, kalau merasa bersalah, daripada minta maaf, dia berusaha saja menunjukkan rasa sesalnya hanya dengan tingkah laku.

Teladani Simpanse[?]

Moralitas pada primataAku coba-coba juga, sih, untuk mengerti. Cuma… bagi siapa saja yang enggan mengucapkan kata maaf, aku ingin bilang:
    "Tahukah engkau, bahwa permintaan maafmu itu dapat menyejukkan hati yang kecewa karena kesalahanmu?"
Kalau kita menyayangi seseorang, tentu kita ingin menyenangkan hatinya, ya? Karena kita sendiri akan merasa senang kalau melihat si dia yang tersayang merasa senang. Iya ‘kan?

Aku menemukan satu tulisan [2007] tentang hasil penelitian Dr. Frans de Waal, ahli primata, yang menemukan simpanse bisa mengusahakan perdamaian di dalam kelompoknya, sepertinya mereka menerapkan prinsip "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh". Dr. de Wall percaya bahwa simpanse punya cukup kecerdasan untuk bisa memutuskan berusaha menghilangkan rasa permusuhan di antara anggota kelompoknya. Pada tahun 2007, majalah Time, pernah memuat pendapat Dr. de Wall bahwa kerekatan antar manusia berkisar pada masalah timbal balk, empati, dan resolusi konflik.

Rekonsiliasi atau pemulihan hubungan, perlu untuk dilaksanakan demi menjamin keselamatan bersama. Jika tidak, tentu harapan baik tentang masa depan kita akan lenyap oleh konflik. Untuk kasus simpanse, inisiatif berekonsialisi sesungguhnya luar biasa. Bukan apa-apa, ini karena simpanse mampu mengingat siapa yang berbuat salah, atau bertingkah baik di dalam kelompok mereka.

Tapi, kita bukan simpanse, ya? Maksudnya, kalau ingin berkilah, kita bisa berpikir bahwa dibanding simpanse jelas manusia bisa melakukan kesalahan yang jauh lebih besar ;).

Kesungguhan Atau Merendahkan Diri?

Permintaan maaf yang sungguh-sungguh menunjukkan kesediaan kita untuk merendahkan diri kita, tetapi bukan menjadi rendah diri. Beda, loh

Merendahkan diri artinya kita meredam ego kita. Kita meletakkan “keakuan” diri jauh di lantai demi menghibur si dia. Sedangkan menjadi rendah diri artinya minder, menghina derajat diri sendiri. Gak percaya diri, dan itu samasekali gak bener.

Dengan merendahkan diri, kita secara sadar mengalah demi kebaikan. Mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah tindakan sengaja mengalah. Ini adalah perbuatan mulia, karena sebetulnya tiada manusia yang berkenan mengalah, namun tiap orang hanya ingin selalu menang.

Pada umumnya orang akan menginginkan agar egonya terlindungi, tak ingin direndahkan. Well, barangkali tidak semua orang. Mungkin memang ada orang yang begitu penyabar sehingga gak mempedulikan egonya sendiri. Duh, itu, sih, kasus khusus. Harus dibicarakan dalam topik lain.

Jadi, kita setuju saja dulu bahwa dalam topik kali ini fokusnya adalah pada tingkah laku manusia yang secara umum saja, ya?

Untuk Alasan Yang Tepat

Bahwa secara umum perasaan kalah itu tidak menyenangkan, maka untuk mengalah dibutuhkan keberanian, kesiapan mental. Namanya sikap ksatria, pasti diidamkan manusia di mana pun berada. Sikap ksatria ini dapat meluluhkan hati yang keras, meredakan jiwa penuh amarah, bahkan menghapuskan kecewa. Maka ketika kita meminta maaf, seharusnya hati si dia melunak karena tersentuh oleh ketulusan kita. 

Tapi bagaimana kalau kata maaf kita itu tidak diterima? Wah, memang ego kita rasanya tercabik-cabik. Tapi dalam hubungan yang romantis, tentunya ada kedekatan yang lebih dari sekedar teman biasa.

Sebagai orang terdekat, tentu kita mengenal jiwa sang kekasih. Kalau kita bersalah dan dia enggan memaafkan, tentu kita mengerti mengapa itu bisa terjadi. Lalu bagaimana caranya mengatasi kebuntuan macam itu?

Tiada lain adalah merelakan diri mengalami ujian ketulusan atas keberanian mengatakan maaf. Apakah kita ingin minta maaf, atau hanya sekedar sedang melancarkan strategi fana saja? Namanya orang bersalah, pasti kena hukuman, 'kan? Jangan kesal, dong...

Kalau cinta, ya pasti rela, deh, menjalani hukumannya. Tentu saja harus dengan sikap realistis, dan tidak menghilangkan rasionalitas. Kita tetap punya hak untuk menilai, kok, apakah hukuman yang mesti dijalani itu keterlaluan, atau pantas untuk diterima.

Coba Untuk Rasional

Tiap Kamis, Dian Manginta Bicara CintaKalau rasanya keterlaluan, maka langkah selanjutnya adalah membicarakannya dengan kepala dingin. Dengan mengalahkan segala ego, cobalah untuk mengadakan perdamaian. Try to say, "I did make mistake and am sorry".

Jangan biarkan rasa permusuhan hidup berlarut-larut, bercerminlah dari contoh simpanse tadi. Apapun yang berlebihan, pasti tidak akan membawa kepada kebaikan. Tetapi, karena ukuran “berlebihan” itu tergantung perspektif masing-masing, maka perlu diadakan pembicaraan dari hati-ke-hati dengan niatan yang tulus.

Sebaliknya bagi yang dimintakan maaf, berusahalah untuk mengerti dan berhati-hati dalam menilai. Kadangkala, seseorang terlalu takut untuk memaafkan, karena katanya “nanti diulangi lagi”. Padahal kalau sayang, sewajarnya kita mengerti bahwa pasangan akan menginginkan punya kehidupan bersama yang lebih baik, dan dengan demikian ia punya potensi lebih besar untuk memperbaiki diri.

Manusia ‘kan memang bisa khilaf, oleh karena itu kita harus berusaha untuk dapat berpikir jernih dan mengalahkan ego diri sendiri untuk memberi maaf. Tentu dengan kemauan yang tulus untuk dapat terus bersama.

Pada akhirnya, semua usaha yang baik itu, pastilah akan membawa kebaikan juga bagi kedua belah pihak. Dalam hal ini, kedewasaan hubungan itu pun terasah dan membawa peningkatan pada kepribadian kedua belah pihak.

Akhirnya, Jangan "Kalahkan" Tuhan

I am telling you, my beloved readers, it is alright to make mistake because we are human who make mistakes. Jadi, mintalah maaf dan jangan menyalahkan. Dan berilah maaf dengan tulus tanpa mendendam. Karena semua orang pasti pernah berbuat salah.

Tuhanlah yang selalu benar. Bagian kita adalah berusaha sebaik mungkin menciptakan hubungan antar manusia yang bisa membuat semua orang yakin bahwa hari depan nan cerah tak akan hancur oleh hubungan yang retak.

Mau punya harapan yang cerah? Yuk, terus saling memaafkan? Apalagi sama pasangan... mau dong atuh! ;)




*****




Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







  • Those who can forgive, are giving reasons to receive forgiveness!"... Gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya", yiuk yaak yiuuuk? ;)
Yuk, gabung?