Oct 5, 2009

Waktunya Berasuransi? [Bagian I]

Cantik Selamanya.com



Dian Manginta - Cantik Selamanya




"Sedia Payung Sebelum Hujan, Sedia Asuransi Sebelum Bencana" [Dian Manginta, tentang HARAPAN AKAN MASA DEPAN]



"Belum lepas dari masalah itu, suaminya, tahun lalu kena stroke dan berlanjut pada timbulnya gejala parkinson. Dari bulan September hingga saat ini, setiap bulan dia harus membelanjakan uangnya untuk membeli obat sebesar 20 juta per bulan, di luar biaya rumah sakit. Beruntung suaminya memiliki asuransi dan penggantian pengobatan yang cukup memadai sehingga tidak perlu jatuh bangkrut karenanya. Adik saya yang lain setiap tahun harus mengeluarkan biaya sekitar 200 juta pertahun untuk 4 kali perawatan rumah sakit dengan rata-rata lama perawatan sekitar 10 hari..."

Begitulah petikan seorang saudara kita, sebut saja namanya Lekir, di suatu milist. Ia menuturkan tentang pengalaman keluarganya menghadapi "bencana kesehatan". Ratusan juta biaya tiba-tiba harus dikerahkan, karena bencana tersebut datang tanpa diundang.

Untung, ada asuransi yang memberikan pertolongan. ...Tapi, apa sebetulnya asuransi ya?

Wikipedia, sumber informasi favorit kita, membuka pengetahuan dasar tentang apa yang dimaksud dengan "asuransi". Kurang lebih begini katanya: "Asuransi – dalam hukum dan ekonomi – adalah bentuk manajemen resiko dengan cara menukar nilai kerugian – mengorbankan sebagian untuk mengurangi dampak kerugian yang besar".

Dian Manginta Bicara KarirAsuransi sebetulnya adalah mewujudkan sikap antisipatif, sama seperti kita waktu menyediakan payung waktu cuaca mendung atau menggunakan sun glasses di kala terik. Kala kita bisa menghitung tingkat kemungkinan suatu hal buruk sedang menaik - seperti mobil tersenggol kala penjualan kendaaran meningkat - maka asuransi akan menjadi payung yang mengurangi [tidak menghilangkan] rasa rugi yang timbul atas bisa terjadi.

Kita tentu tidak menginginkan hal buruk terjadi. Dan asuransi adalah jembatan mental supaya kita bisa menyediakan cukup banyak waktu untuk menyelesaikan lebih banyak hal manakala ada yang sudah kita perhitungkan sebagai aral merintang datang.

Tapi orang Indonesia masih percaya tahyul.. Padahal ngakunya beragama, tapi belum beriman. Disuruh berasuransi malah katanya takut mendahului Tuhan. Padahal Tuhan 'kan memberi kita otak untuk berpikir. Karena seumur-umur bumi ini, bencana adalah bagian yang akrab dengan kehidupan manusia.

Rasanya, jarang sekali aku mendengar orang hidup tanpa pernah melewati saat bermasalah. Contoh ekstrim adalah kejadian gempa yang baru saja terjadi atau laporan infotainment di televisi tentang artis yang tiba-tiba jatuh sakit sehingga harus mengandalkan sumbangan rekan-rekannya. Padahal, kalau bisa, 'kan, kita gak pake disumbang orang, ya?

Makanya, umumnya perusahaan-perusahaan sekarang sudah menggunakan jasa asuransi untuk menjamin kesehatan pegawainya. Selain itu, Pemerintah juga menggalakkan program Jamsostek yang bisa dimanfaatkan oleh karyawan yang mengikuti program itu. Bagusnya, pemerintah mewajibkan setiap karyawan untuk mengikutsertakan karyawannya dalam program ini. Gak ada alasan takut tahyul. Ya, iyalah...

Yang harus ditakuti 'kan hanya Tuhan. Dan gak mungkinlah Tuhan marah kalau kita menggunakan akal sehat kita.

To Anticipante and To Encourage

Belajar dari bencanaKalau melihat artikel di Wikipedia tadi, kita diantar untuk melihat sejarah asuransi. Kita akan mengerti bahwa di zaman ancient, hampir 4000 tahun lalu, asuransi tumbuh berkembang sejak era zaman kejayaan Babilonia, Persia, hingga Kerajaan Roma. Waktu itu, asuransi adalah lambang komitmen bahwa penguasa akan melindungi suatu aktivitas kelompok, atau keselamatan umum.

Kebiasaan menunjukkan komitmen untuk melindungi ini pun berlanjut dan berkembang di Eropah, hingga di era pertengahan sampai kemudian di masa awal era modern. Saat itu, pengetahuan tentang sistem pemerintahan semakin kuat, dan artinya manusia sudah bertambah mampu untuk bersatu memecahkan masalah yang berdasarkan pengalaman bisa muncul tiba-tiba.

"The Fire Office" di Inggris berdiri 1680 karena pengalaman kebakaran besar duapuluh tahun sebelumnya, di tahun 1666, yang menghanguskan 13.200 rumah di London. Perhatikan, lebih dari 340 tahun lalu, perlu waktu duapuluh tahun bagi orang Inggris sebelum mencetuskan perlunya menggalang usaha asuransi setelah suatu bencana besar melanda.

Sepatutnya kita orang Indonesia yang beruntung hidup di era internet, bisa belajar lebih cepat dibanding manusia di abad lampau, bukan ;)? Asuransi merupakan lambang keinginan bersama menguatkan harapan untuk hidup, mengantisipasi terulangnya kejadian kehilangan dalam suatu bencana.

Asuransi Bencana Alam?

Sejenak menengok ke belakang, sekitar awal 2000-an hingga 2004, catatan asuransi karena bencana alam, terutama oleh kejadian tsunami di Aceh mulai marak bergulir. Mesi isinya bukan langsung berhubungan dengan bagian antisipasi menghadapi bencana, namun kerusakan karena banjir tsunami, namun kita mulai diingatkan pentingnya asuransi dalam menghadapi suatu bencana alam.

Hingga tahun 2008, situs Kompas mencatat bahwa keinginan berasuransi secara umum masih perlu ditingkatkan. Sayangnya di halaman yang sama tercantum berbagai kesan pendapat pembaca yang tidak mempercayai asuransi, lantaran dianggap kurang menguntungkan dibanding jenis investasi atau tabungan.

Secara kasat mata perbedaan menggunakan asuransi dibanding upaya swadaya adalah kejelasan adanya pergantian bayangan visi hidup yang tak menentu bila masa depan diselipi kejadian bencana, seperti di era sebelumnya. Karena kita tahu bencana sesungguhnya bukan mustahil, kala ia melanda pastilah kita butuh lebih banyak energi karena memang dihadapkan pada lebih banyak masalah sekaligus.

Sudah waktunya kita berpikir bagaimana masyarakat Indonesia bisa memiliki harapan untuk bisa lebih mandiri setelah diterjang bencana. Bagaimanapun kita harus menghadapi kenyataan bahwa kita hidup di negeri yang rawan gempa bumi. Wilayah negeri kita ini di sebut sebagai Sabuk Api atau Ring of Fire. Serem, ya.. Sudah tahu begini, tentu kita sebagai makhluk yang memiliki akal, harus bijak menyikapinya.

Dari televisi dan koran kita sudah melihat apa akibatnya gempa. Bukan cuma kehancuran fisik, tetapi juga yang nonfisik seperti hilangnya lahan pekerjaan, hidup dalam pengungsian atau menumpang di rumah saudara. Bagaimana kalau hal itu terjadi pada kita sedang kita tidak punya persiapan apa-apa? Bayangkan pengungsi yang tadinya punya tempat tinggal meskipun sederhana, lalu karena gempa harus hidup dalam pengungsian. Bagaimana caranya mereka akan kembali? Bagaimana mereka bisa membangun kembali rumah mereka kalau tidak ada dananya?

Jangan lupa dengan penyakit yang timbul paska bencana. Apakah kita akan menggantungkan diri pada belas kasihan orang lain? Ih, amit-amit, deh. Amit-amit kena bencana, amit-amit juga kalau harus hidup dalam belas kasihan orang lain.

Di waktu mendatang, I promise you, my readers, untuk lebih banyak menuturkan tentang pentingnya berasuransi ;)





*****






Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:










Yuk, gabung?