Dec 7, 2009

Nenek Minah, Nasib Orang Kaya [Legal]

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya




Hukum dan Status Sosial




Apa yang terjadi bila Nenek Minah adalah orang kaya? Apakah status sosial mempengaruhi kedudukan dalam hukum?





Oleh: Meyland SH

Baca artikel ini di www.cantikselamanya.com



Klik di sini untuk melihat artikel 'legal'/hukum karya Meyland, SHPENINDASAN, begitu reaksi orang tentang Nenek Minah. Perbuatannya memetik 3 buah kakao [cokelat] senilai Rp. 2.000 di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan [RSA] membuatnya diganjar Pengadilan Negeri Purwokerto, Jawa Tengah, 1 bulan 15 hari penjara dengan masa percobaan tiga bulan.

Nenek Minah dan PT RSA mengelola bidang tanah yang sama – agaknya cara pandang yang umum terjadi di kalangan masyarakat tradisional membuat Nenek Minah memandang area tersebut sebagai tanah adat.

[Lihat informasi tentang PT RSA di situs yellowpages.co.id]

Rencananya, Minah akan menyemai tanaman cokelat dari bibit kakao di tanah garapannya. Buah cokelat yang diambilnya tak disembunyikan Nenek Minah, melainkan digeletakkan begitu saja di bawah pohon cokelat. Kemudian, ia ditangkap oleh pihak PT RSA, dan kisah pengadilan tadi pun bergulir.

Namun, bagaimana bila ternyata Nenek Minah berasal dari keluarga mampu? Misalnya, ia tak sengaja mencuri tiga buah kakao tadi, dan toh akhirnya hakim mengganjarnya tiga bulan penjara. Bila kejadiannya begitu, akankah media memberikan dua jempol bagi pengadilan [juga ke PT RSA]?

Si kaya dan si miskin sama-sama mencuri tiga buah kakao. Dari keduanya, siapa yang layak dibebaskan dari hukuman?

[Baca "Bedah Rumah - Rumah untuk Si Miskin" di Cantik Selamanya [blog]]

Orang Kaya dan Miskin: Beda?

Kita harus ingat bahwa semua perbuatan yang merugikan orang lain akan serta-merta menciptakan lahirnya kewajiban bagi si pelaku untuk menebusnya. Dan dalam hukum pidana, fokus yang dilihat adalah perbuatan, meskipun hakim memiliki hak mutlak untuk memutuskan salah atau tidaknya tindakan seseorang dan kemudian menentukan besar ganjaran hukuman. 

Hukum pada dasarnya merupakan kesepakatan kita bersama untuk memberi batasan bagi setiap anggota masyarakat dalam bertindak, yaitu supaya tidak merugikan orang lain dan menciptakan ketertiban bersama. Kesepakatan melihat batas tersebut adalah mutlak adanya.

[Baca "Mengenal Hukum: "Tahu" Itu Wajib" di Cantik Selamanya [blog]]

Maka hukum yang bertujuan untuk menciptakan ketertiban dalam masyarakat itu harus memiliki 3 unsur yang memastikan bahwa tujuan tersebut dapat tercapai. Unsur tersebut adalah adanya kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan

Seperti dalam kasus Nenek Minah tadi. Banyak di antara kita membangun persepsi salah dengan mengatakan bahwa seharusnya perbuatan tersebut jangan dihukum, karena barang yang dicuri “hanya” 3 buah cokelat [apalagi yang bersangkutan adalah orang miskin]. Di sinilah kesalahan kita.

Baik kaya, maupun miskin, bila melakukan pencurian, haruslah dihukum. Kita harus ingat, bahwa semua perbuatan kita yang merugikan orang lain akan serta-merta menciptakan lahirnya kewajiban bagi kita untuk menebusnya.

Hakim dengan segala kebijaksanaannya akan mengambil keputusan dengan melihat dan mempertimbangkan latar belakang terjadinya pelanggaran hukum tersebut. Dalam proses menimbang itulah kita bisa melihat fungsi aparat penegak hukum saat mengumpulkan bukti dan mengajukan tuntutan, untuk menghasilkan suatu putusan. 

Hal inilah yang kita minta kemudian pada para pihak yang turut berperan serta dalam penegakan hukum kita. Yakni, mengembalikan hukum kepada posisinya yang awal, men-support kita dengan kepastiannya, keadilannya, dan kemaanfaatannya.

Miskin: Boleh Serobot Tanah?

Kasus menarik lainnya adalah berita yang hampir sehari-hari kita dengar, yaitu penggusuran. Saya sungguh bersimpati atas segala berita sedih yang muncul dari kegiatan penertiban tersebut.

Akan tetapi menduduki tanah milik orang lain dengan cara melawan hukum [baca: dengan tidak mempunyai dasar hukum, karena memang bukan merupakan hak miliknya] adalah hal yang salah. Miskin bukanlah alasan untuk memperbolehkan pelanggaran atas hukum yang kita sepakati bersama itu.

Hukum sebenarnya sangat bijaksana. Hukuman bagi orang yang menyelewengkan kekuasaan yang dipercayakan kepadanya akan lebih besar daripada hukuman bagi mereka yang mencuri karena kelaparan atau ingin membayar biaya rumah sakit.

[Baca "Penjarahan dan Korupsi Di Kala Bencana [Hukum]" di Cantik Selamanya [blog]] 

Di dalam hukum keadilan yang ingin diciptakan bukanlah yang sekedar sama rata, tetapi juga keadilan yang berimbang. 

Tetapi apapun alasannya, perbuatan salah tersebut tetap harus dihukum. Di sinilah kita melihat secara bersamaan adanya kepastian hukum, sekaligus keadilan dan kemanfaatan dari hukum yang diterapkan. Walau kuantitas tiap unsur tidak berimbang, namun ketiga unsur tersebut harus ada dalam tiap proses hukum. 

Seorang Hakim Tinggi pernah berkata kepada saya, “Hakim yang “benar-benar hakim” adalah hakim yang memutuskan perkaranya dengan tidak terpengaruh pada tiga hal: jenis kelamin terdakwa, harta dan kekuasaan sebagai godaan dan perasaan kasihan pada sang terdakwa”. 

Putusan jangan dipengaruhi oleh status sosial miskin atau kaya yang bisa mengaburkan pandangan. Mungkin itu pula yang menyebabkan mata Lady Justice ditutup kain hitam, saat ia mengangkat tinggi timbangan di tangannya. Dan pada akhirnya, kita berharap agar hukum yang sama tersebut memperlakukan penguasa-penguasa dengan sewajarnya juga, no unwanted privilege. (Meyland.S)





*****






Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







  • Prepare to see we are getting better, then we can see the goods of ourselves, no matter what. And...why don't you gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya"? Okay? ;)
Yuk, gabung?






Cover/ID photo: Dian Manginta [Pribadi]