Sep 30, 2009

Cerber Nita Si Sekretaris (17)


KUTIPAN MINGGU LALU:

Mbak Tini yang tadi ada disitu ternyata hanya berdiri terbengong-bengong saja dan merasa gugup untuk menyampaikan pamit meninggalkan Sarah dan Nita. Sejak Sarah berbicara ini-itu dengan Nita, Mbak Tini terlihat berpindah-pindah arah pandangan, sebentar ke arah Sarah, sebentar ke arah Nita. Mungkin juga sih Mbak Tini ini sedang terkesima melihat penampilan Sarah yang cantik sekali itu.

“Ya, Ibu Tini boleh kembali ke tempat kerjanya lagi.” Kata Sarah tiba-tiba dengan suara yang terdengar tegas tapi dengan ekspresi wajah yang datar sambil menggerak-gerakkan jari tangannya ke arah Mbak Tini.

Hati Nita jadi mengkerut… Mudah-mudahan tidak seperti yang gue pikirin, harapnya dalam hati.


Baru bergabung? Jangan mulai dari episode ini, baca dulu bagian:




*****





Nita, Si Sekretaris - Cantik Selamanya




“Pagi Nit.” Sapa Edward yang ternyata berdiri di samping Nita di dalam lift yang sedang dipenuhi beberapa orang itu.

Nita menoleh dan terkejut melihat Edward ternyata ada di situ. “Pagi.” Jawabnya dengan tersenyum ramah.

Tapi mereka tidak berbicara apa-apa sampai pintu lift terbuka di lantai tempat mereka bekerja.

“Yanti kapan berangkat training ke Australi, Nit?” Tanya Edward sambil berjalan setelah berada di luar lift.

“Apa?” Nita terkejut dengan pertanyaan Edward. “Emang dia mau berangkat ke Australi juga?” Nita malah balik bertanya.

“Loh, dia kan berangkat atas persetujuan bos lo, Nit.”

“Wah, saya ga' pernah liat persetujuannya masuk meja Ibu tuh.” Kata Nita masih dengan agak-agak kebingungan.

“Oh, berarti dari si Walker, kali ya?”

Nita Si SekretarisNita hanya mengangkat bahunya menjawab pertanyaan Edward. Di pertigaan koridor, Edward dan Nitapun berpisah berjalan menuju meja kerjanya masing-masing.

Seperti biasa, ketika sudah tiba di mejanya Nita memasukkan tasnya ke dalam laci, menyalakan komputer, dan baru saja mengangkat cangkir yang berisi teh manis hangat yang sudah tersedia di mejanya.

Ups…” Hampir saja Nita menumpahkan isi teh tersebut. Ia baru sadar kalau si Usep itu tidak pernah membuatkannya teh…

“Loh ini teh kok ada di meja gue sih?” Tanya Nita berbicara sendiri.

“Oh, itu teh ditaruh sama Sarah dari ruangannya.” Sahut Darman yang mendengar celotehannya.

Nita jadi terkejut. Ia mengerutkan dahinya tapi tidak mengatakan apa-apa.

“Dah liat belum isi kado siapa tuh?” Tanya Darman tanpa menoleh sambil terus menghadap komputernya.

Nita jadi terkejut lagi. Tapi kali ini, tentu rasa keterkejutannya berbeda. Dia langsung merasa dagdigdug… Wah, Pak Wiguna lagi nih… Ia melihat ke arah sudut meja yang berjauhan dengan laci tempat ia menaruh tasnya.

Wow... Sebuah kotak kecil bermotif cantik dan dihiasi sebuah pita dengan warna senada dengan motif kotaknya.

Eh! Secara reflek Nita melirik ke arah Asti. Ups! Ternyata dia memang sedang memandangi Nita dengan ekspresi pandangan yang "bagaimana gitu"… Sepertinya sih dalam hati ia iri pada Nita.

Asti memang tidak bicara apa-apa, tapi wajahnya tampak cemberut. Lalu kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan pergi entah kemana melalui pintu yang menuju keluar arah area reception.

Tanpa buang waktu Nia membuka bungkusan kotak mungil itu, oh, ternyata bukan dari Pak Wiguna…. Tapi dari Dave Watson…! Nita sama sekali tidak menduga, karena selama ini si misterius Wiguna itu rajin sekali memberikannya aneka rupa kado.

Setelah sampulnya dibuka, di balik sebuah kartu kecil, ternyata pemberiannya itu adalah sebuah jam meja yang berbentuk sangat unik. Seperti bentuk lokomotif dengan tokoh kartun yang mengendarai lokomotif itu sambil membawa sebuah papan bertuliskan ‘Have a great time!’

Rasanya, bagi Nita, tulisan tangan Dave jauh lebih penting dari pada pemberian jam meja itu:
Dear Nita, how are you doing? It’s been long time not to see you again. I’m sorry I just could stop by shortly and left you this. I hope you like it. Pls do keep in touch. Dave.

Mmmmm…. Tulisan tangannya agak sulit juga dibaca, tapi… Owww… Hari masih pagi, tapi hati Nita sudah berbunga-bunga. Rasanya ia dapat merasakan kalau wajahnya sekarang berona-rona karena pipinya terasa hangat.

Eh.. Hush! Masa iya sih dia naksir gue? Apa ini artinya tanda orang naksir? Kalo dia liat si Sarah, pasti juga dia akan melotot ngeliatinnya. Hati Nita bergejolak sendiri.

Rrrrrr…rrrrrr…..rrrrrrrr…

Lagi-lagi telpon meja Nita berdering, merusak suasana hati yang sedang indah-indahnya...

Di layar telpon muncul nama "Edward".

“Ya, Pak?” Tanya Nita tanpa terlebih dahulu memberikan salam. Maklum, ia masih merasa seperti di awang-awang…

Sambil tangannya memegang-megang jam meja pemberian Dave, Nita mulai memperhatikan bahwa Edward hanya mengucapkan “hmmm”, “eh”.

Nita mulai menandai sesuatu yang tidak beres, ”Ya, Pak Edward? Ada yang bisa sa...”

Tapi ternyata tiba-tiba saja Edward memotong ucapan Nita,“Oh, gini, gini, saya mau tanya laporan anggaran yang sekarang sama Bu Marsya, gimana? Udah disetujui apa belum?”

“Oh, itu. Sudah. Nanti difoto kopi Usep dulu ya? baru diantar...”

“Nggak. Nggak. Saya ambil saja. Bisa kesana sekarang, saya, ya?” Tanya Edward buru-buru.

Ketika Nita sedang mengatakan,”Nanti aja diantar Usep.” Ruang kerja Sarah terbuka. Oh, ternyata si bos cantik itu sudah ada di dalam ruang kerjanya sejak tadi.

Nita sempat terbengong-bengong sesaat lamanya. Sejak pertama kali melihat Sarah, ia memang mengaggumi penampilan Sarah yang memang sudah cantik jelita namun pandai memilih pakaian yang sangat pantas bagi bentuk tubuhnya, walaupun rambutnya hanya dengan diikat begitu saja. Hari itu ia menggunakan sackdress berwarna putih dipadu dengan ikat pinggang mungil, sepatu, dan anting-anting yang semuanya berwarna merah muda. Penampilannya bak sebuah boneka cantik yang jadi trend mainan anak-anak perempuan segala jaman. Tapi di sini, di kantor ini, boneka cantik itu sungguhan hidup!

“Nita, kamu sudah datang. Bagus. Kesini sebentar.” Ucapnya cepat sambil menggerakkan jari tangannya memberikan tanda mengajaknya masuk kedalam ruang kerjanya. Dari situ terlihat di jarinya sebuah cincin yang matanya berukuran agak besar dan berwarna pink pula.

Nita mengangguk-angguk dan segera mengikut masuk ke dalam ruang kerja Sarah.

Di dalam ruang kerjanya, Sarah malah duduk di pinggir mejanya dan mulai melipat satu tangannya di dada, dan satu lagi di pinggangnya. Persis seperti seorang supermodel yang akan difoto.

“Saya selalu datang pagi-pagi. Saya merasa teh yang disediakan di sini tidak enak. Jadi...” Sarah mulai bergerak dari pinggir meja dan mengambil sebuah kotak yang ada di mejanya. “Kamu yang simpan teh ini dan berikan setiap kali saya perlu ke office boy di sini, okey?”

Tentu saja Nita sebal mendengarnya. Kirain dia mau ngomong yang lebih penting dari cuma teh doang.

“Baik.” Jawab Nita dengan sopan dan mengambil kotak teh tersebut dari tangan Sarah dan melangkah keluar.









Bersambung




Baca juga: "Pembacaan Cerber "Nita si Sekretaris" di Radio Cempaka Asri FM!"




Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya