Oct 14, 2009

Cerber Nita Si Sekretaris (19)


KUTIPAN MINGGU LALU:
Hmmmm… mestinya Bu Marsya tahu betul tentang hal ini.

“Oh ya, Bu. Mohon maaf jika saya salah. Tapi saya juga diberitahukan oleh Bu Sarah bahwa saya adalah bagian dari timnya.”

Ia melangkah mundur dan mengatakan, ”Ya, kan, Bu?”

Tapi Bu Marsya baru beberapa detik kemudian mengucapkan, ”Hah?” dengan wajah terheran-heran.

Beliau kemudian menyandarkan duduknya di senderan kursinya. Tetap tidak mengatakan apa-apa, lalu, setelah mengarahkan pandangannya pada Nita, Bu Marsya malah kemudian mengalihkan arah pandangannya keluar jendela.

Baru bergabung? Jangan mulai dari episode ini, baca dulu bagian:




*****




Nita Si Sekretaris di Cantik Selamanya



Nita masih menantikan sebentar jawaban dari sang bos. Tapi si bos tetap diam saja dan tetap mengarahkan pandangannya keluar jendela. Ekspresi wajahnya datar-datar saja. Tidak sedang marah atau kecewa, atau apapun yang dapat Nita tangkap yang menjadi maksud hati beliau ini.

“Permisi, Bu.” Kata Nita, lalu berbalik pergi meninggalkan ruang kerja Bu Marsya. Seraya mengayunkan langkahnya, Nita semakin mengerti bahwa Bu Marsya tidak peduli apakah Nita harus mendapatkan porsi ganda karena jabatannya "cuma" sebagai seorang sekretaris… Nita Si SekretarisBagi si bos mungkin masalah seorang sekretaris harus menanggung beban pekerjaan yang tidak sesuai dengan perjanjian kerjanya adalah sekedar hal yang tidak begitu penting.

Jadi, Nita sekarang memahami bahwa siapa yang mau peduli dengan dirinya? Toh, selama ini juga sudah cukup jelas bahwa pimpinananya selalu diam saja jika ada orang-orang di kantor yang over-acting pada Nita.

Ketika Nita menutup pintu ruang kerja Bu Marsya, ia melihat posisi duduk sang bos sudah beralih ke arah komputernya lagi.

Hmmm… Sudah jelas sekali bahwa pertanyaannya tadi cuma seperti sedang membuang garam ke dalam laut.

Ah, gue harus nih bicara dengan haerde.

Dari pintu depan ruang kerja Bu Marsya, Nita melihat beberapa orang seperti Pak Harris, Pak Abdullah Hasan, Bu Rebeka, dan beberapa orang lainnya yang tidak terlalu jelas kelihatan, masih terlihat asyik beramah tamah di ruang kerja Sarah. Mungkin jumlahnya cukup banyak, sampai-sampai Pak Slamet dan Bu Sari yang sampai berdiri di luar pintu.

Tiba di meja, Nita melihat Sarah menjadi pusat perhatian para karyawan yang sedang ramai di ruang kerja itu. Dengan sikapnya yang rileks sambil menopangnya sebelah tangannya di meja dan sebelah lagi ditaruh di pinggangnya, Nita terkesan Sarah memiliki pribadi yang sangat percaya diri. Ia juga nampaknya sudah siap dengan kunjungan karyawan-karyawan itu, karena terlihat beberapa dari mereka menikmati permen coklat yang sudah disediakan di situ.

Jangan-jangan dia nggak beda dari dari Vero, nih…

Sambil mencetak beberapa dokumen dari komputernya untuk diberikan ke Bu Marsya seperti yang sudah dijanjikannya tadi, Nita mencoba menelpon Mbak Tini yang memang orang haerde. Ia ingin membicarakan soal keanggotaannya di timnya Sarah itu ke Bu Marsya.

Nada dering terdengar bahwa sambungan Mbak Tini sedang tidak aktif, tapi kemudian di layar telpon terlihat bahwa telpon itu di pick up oleh Anton Suardja.

“Pagi, Pak Anton, Mbak Tini sedang tidak ada di tempat ya?” Tanya Nita ketika telpon sudah dijawab oleh Pak Anton.

“Oh, Mbak Tini hari ini ada perlu urus keluarganya ada yang masuk rumah sakit, jadi dia barusan ijin pulang.” Jawab Pak Anton di sambungan sana.

“Ada pesan atau mau bicara dengan yang lain saja?” Tanya Pak Anton lagi.

“Oh... hmm… saya telpon Pak Hardi saja deh, Pak. Pak Hardi ada di tempat kan, Pak?”

“Nggak ada. Ruangannya kosong. Tanya Anna saja, sekretarisnya di extention tiga-satu-empat.” Jawab Pak Anton, lalu menutup telpon.

Nita segera menyambung ke nomor extension Anna di tiga satu empat.

Tut tut tut tut tut tutHmmm… ternyata sambungan telpon Anna sedang sibuk, maka iapun menekan menu reserve agar jika saat sambungan telpon Anna sudah tidak sibuk, telpon NIta akan menyala untuk memberikan tanda bahwa sambungan telpon Anna bisa dihubungi lagi.

Tapi ternyata, setelah kira-kira lebih dari sepuluh menit lampu pada pesawat telpon Nita ternyata tidak juga menyala.

Hmmm… lama juga ya sambungan telponnya sibuk…?

Sambil sekali-sekali melihat ke arah ruang kerja Sarah yang masih dipenuhi banyak orang, Nita mulai menstapler dokumen yang sudah selesai dicetaknya.

Lalu pada saat Nita sedang beranjak dan berjalan masuk lagi ke dalam ruang kerja Bu Marsya untuk menaruh dokumen yang tadi distaplernya itu, Nita mendengar Sarah mulai mengeraskan suaranya.

“Oke, semuanya kembali ke pekerjaannya masing-masing.” Itu suara Sarah yang terdengar jelas dari tempat Nita berjalan masuk ke ruang kerja Bu Marsya.

“Terima kasih semuanya. But sorry, time is up. Hope that we will be a great team.” Katanya lagi dengan wajah gembira membalas keramahan semua orang yang sedang menemuinya itu.

Mendengar suara Sarah mengucapkan kalimat seperti itu, hhmmm… aneh… Nita kok jadi merasa tidak nyaman, ya…? Ia jadi semakin bertekad untuk membicarakan masalah keanggotaan Nita dalam timnya Sarah itu dengan pihak yang berkompeten. Kalau tidak dengan Bu Marsya sendiri, ya, tentunya Pak Hardi di haerde.

Ketika Nita kembali lagi ke mejanya, pesawat telponnya sudah menyala.

Nita mencoba menghubuni Anna, sekretarisnya Pak Hardi itu. Tapi sekarang, kok malah tidak dijawab-jawab oleh Anna. Duh… capek deh…









Bersambung








Baca juga: "Pembacaan Cerber "Nita si Sekretaris" di Radio Cempaka Asri FM!"




Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya